Minggu, 04 Januari 2015


Malam Kelabu “Ketika firasatku berbicara dan dirimu bungkam untuk selamanya”

“ Jangan pernah terpaku sama satu hal dan jangan pernah terlalu cinta ataupun benci sama seseorang, oke” begitulah pesan singkat yang dikirim ka cahyo untuk ku sehari sebelum kepergiannya yang telah menggoreskan luka begitu dalam dihati ku.
            Dengan hati yang tak beraturan, raut wajah yang tak dapat digambarkan lagi, langkah kaki yang begitu gemetar, alsya menguatkan tekatnya untuk pergi ke kediaman ka cahyo bersama beberapa kakak kelasnya yang juga merupakan teman seangkatan ka cahyo. Awalnya alsya merasa ragu untuk datang karena dia yakin pasti disana semua yang hadir adalah kakak-kakak kelasnya dan tidak ada satupun teman yang seangkatan dengannya, semua membuatnya minder dan malu. Jelas kakak-kakak kelasnya pasti akan heran, karena setau mereka ka cahyo semasa hidupnya tidaklah akrab dengan adik tingkat kelas tujuh SMP nya apalagi itu seorang perempuan, meskipun begitu semuanya tidaklah akan menjadi masalah yang bergulir terus-menerus. Sesampainya alsya dan kakak-kakak kelasnya di kediaman ka cahyo, alsya bertemu ka haekal dan ka andi yang merupakan teman seangkatan ka cahyo sekaligus teman band ka cahyo di waktu luang.
“ alsya “ ka haekal memanggil alsya yang pada saat itu terlihat berusaha untuk menghindari pandangan ka haekal.
“ k..ka..” dengan gugup alsya berusaha menyunggingkan senyuman untuk ka haekal.
“ kita kedalam bareng ya” dengan raut wajah yang masih terlihat sedih,ka haekal tetaplah seperti biasanya yang begitu perhatian terhadap alsya.
Meskipun haekal tau bahwa alsya sudah menghapus perasaan sayangnya terhadap dirinya dan kembali pada masa lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di SMPN di kawasan jakarta pusat, sosok yang selalu membuat alsya penasaran sejak awal bertemu dan yang membuat alsya diam-diam menaru hati pada sosok yang terkenal super dingin, sosok itu tak lain adalah cahyo nugroho, salah satu kakak kelas yang melakukan orientasi pada siswa-siswi baru di sekolah itu, namun kini sosok itu telah pergi, tanpa pamit, walau memang dia tidak memiliki kewajiban untuk berpamitan pada alsya, karena meskipun sudah umum diketahui oleh teman-teman band cahyo bahwa alsya dan ka cahyo memiliki kedekatan, akan tetapi mereka memang tidak memiliki status apapun untuk memperkuat semua itu dan bagi teman-teman band cahyo hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik, selain itu yang mereka ketahui alsya memang lebih terkenal dekat dengan haekal, dan menyimpan perasaan terhadap haekal sejak lama.
“ iya ka..” gemetar dan sedih bercampur padu dalam hati alsya.
            Alsya tak kuasa melihat jasad ka cahyo, dia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi disamping ka haekal dan ka rico.
“al.. apa kabar?” ka rico yang terlihat sedih menyapa alsya yang duduk di sampingnya.
“ka rico, alhamdulillah baik ka, kk gimana?” jawab alsya berusha tersenyum dalam kesedihan.
“alhamdulillah baik juga, ga nyangka ya al cahyo bakal pergi secepat ini.” Ka rico tiba-tiba terlihat begitu sedih dan meneteskan air matanya.
“iya ka, aku juga ga nyangka banget.” Alsya tak kalah sedih dan seakan sesak dalam hatinya.
“kamu tau dari mana berita ini?” tanya ka rico sambil mengusap air matanya.
“ tadi pagi aku sms ka haekal, trus dia kasih tau aku berita ini.” Alsya berusaha tegar dan mengusap air matanya.
“sabar ya al.” Ka rico mengelus punggung alsya yang tengah menangis sesenggukan.
            Tak beberapa lama, ka cahyo yang telah ada di dalam peti di giring menuju masjid untuk melaksanakan sholat janazah dan akan di kebumikan di jawa tengah. Hati alsya sempat kecewa mendengar kabar tempat ka cahyo akan di kebumikan, karena dia sangat berharap untuk dapat mengikuti resepsi pemakaman ka cahyo, tapi semua pupus sudah. TO BE CONTINUE...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar