Malam Kelabu “Ketika firasatku berbicara dan dirimu bungkam untuk
selamanya”
“ Jangan pernah
terpaku sama satu hal dan jangan pernah terlalu cinta ataupun benci sama
seseorang, oke” begitulah pesan singkat yang dikirim ka cahyo untuk ku sehari
sebelum kepergiannya yang telah menggoreskan luka begitu dalam dihati ku.
Dengan hati yang tak beraturan, raut
wajah yang tak dapat digambarkan lagi, langkah kaki yang begitu gemetar, alsya
menguatkan tekatnya untuk pergi ke kediaman ka cahyo bersama beberapa kakak
kelasnya yang juga merupakan teman seangkatan ka cahyo. Awalnya alsya merasa
ragu untuk datang karena dia yakin pasti disana semua yang hadir adalah
kakak-kakak kelasnya dan tidak ada satupun teman yang seangkatan dengannya,
semua membuatnya minder dan malu. Jelas kakak-kakak kelasnya pasti akan heran,
karena setau mereka ka cahyo semasa hidupnya tidaklah akrab dengan adik tingkat
kelas tujuh SMP nya apalagi itu seorang perempuan, meskipun begitu semuanya
tidaklah akan menjadi masalah yang bergulir terus-menerus. Sesampainya alsya
dan kakak-kakak kelasnya di kediaman ka cahyo, alsya bertemu ka haekal dan ka
andi yang merupakan teman seangkatan ka cahyo sekaligus teman band ka cahyo di
waktu luang.
“ alsya “ ka haekal
memanggil alsya yang pada saat itu terlihat berusaha untuk menghindari
pandangan ka haekal.
“ k..ka..” dengan
gugup alsya berusaha menyunggingkan senyuman untuk ka haekal.
“ kita kedalam
bareng ya” dengan raut wajah yang masih terlihat sedih,ka haekal tetaplah seperti
biasanya yang begitu perhatian terhadap alsya.
Meskipun haekal tau bahwa alsya sudah menghapus perasaan sayangnya terhadap
dirinya dan kembali pada masa lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di
SMPN di kawasan jakarta pusat, sosok yang selalu membuat alsya penasaran sejak
awal bertemu dan yang membuat alsya diam-diam menaru hati pada sosok yang
terkenal super dingin, sosok itu tak lain adalah cahyo nugroho, salah satu
kakak kelas yang melakukan orientasi pada siswa-siswi baru di sekolah itu,
namun kini sosok itu telah pergi, tanpa pamit, walau memang dia tidak memiliki
kewajiban untuk berpamitan pada alsya, karena meskipun sudah umum diketahui
oleh teman-teman band cahyo bahwa alsya dan ka cahyo memiliki kedekatan, akan
tetapi mereka memang tidak memiliki status apapun untuk memperkuat semua itu
dan bagi teman-teman band cahyo hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik,
selain itu yang mereka ketahui alsya memang lebih terkenal dekat dengan haekal,
dan menyimpan perasaan terhadap haekal sejak lama.
“ iya ka..” gemetar
dan sedih bercampur padu dalam hati alsya.
Alsya tak kuasa melihat jasad ka
cahyo, dia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi disamping ka haekal dan
ka rico.
“al.. apa kabar?”
ka rico yang terlihat sedih menyapa alsya yang duduk di sampingnya.
“ka rico, alhamdulillah
baik ka, kk gimana?” jawab alsya berusha tersenyum dalam kesedihan.
“alhamdulillah baik
juga, ga nyangka ya al cahyo bakal pergi secepat ini.” Ka rico tiba-tiba
terlihat begitu sedih dan meneteskan air matanya.
“iya ka, aku juga
ga nyangka banget.” Alsya tak kalah sedih dan seakan sesak dalam hatinya.
“kamu tau dari mana
berita ini?” tanya ka rico sambil mengusap air matanya.
“ tadi pagi aku sms
ka haekal, trus dia kasih tau aku berita ini.” Alsya berusaha tegar dan
mengusap air matanya.
“sabar ya al.” Ka
rico mengelus punggung alsya yang tengah menangis sesenggukan.
Tak beberapa lama, ka cahyo yang
telah ada di dalam peti di giring menuju masjid untuk melaksanakan sholat
janazah dan akan di kebumikan di jawa tengah. Hati alsya sempat kecewa mendengar
kabar tempat ka cahyo akan di kebumikan, karena dia sangat berharap untuk dapat
mengikuti resepsi pemakaman ka cahyo, tapi semua pupus sudah. TO BE CONTINUE...